Kapan lagi kalau ngga sekarang memulai ide baru, hal baru, semangat baru, energi baru dan pikiran baru. Waktu sehari 24 jam rasanya masih kurang buatku. Mungkin aku terlalu serakah mengulang rutinitas yang memang tiada habisnya. Rasanya hidup masih seribu tahun. Dan sebuah perubahan adalah sebuah keharusan. Perubahan yang paling berasa di usiaku sekarang adalah "uban". (He he he tahu kan helaian rambut putih dikepala yang datangnnya tak diundang dan ngga perlu dipanggil oleh salon).
Terbayang wajah ibuku saat aku dikasih lima rupiah untuk satu helai uban ibuku. Saat itu usia ibuku 46 tahun dan aku 8 tahun. Dengan semangat aku mencabut uban dikepala ibuku.( bukan aku bermaksud ngga sopan kepada beliau) Rasanya sebal sekali kalau ternyata yang aku dapatkan hanya 5 helai rambutnya. Karena uang itu baru sebesar uang jajanku sehari. Aku selalu berharap ibuku ubannya tambah banyak agar uang yang aku dapatkan juga lebih banyak. Tapi harapan cumalah harapan karena semakin banyak ubannya semakin sedikit harga tiap helai uban yang aku cabut. Semakin lama nilainya turun jadi satu rupiah, padahal aku bekerja lebih keras. Waktu itu rasanya sebel banget. dan malas malasan. Sampai ibuku merayau agar yang dicabut hanyalah uban yang membuat kepalanya terasa gatal, Ibuku berhenti memintaku setelah aku menangis karena ngga mau mencabut ubannya.
Sekarang diusiaku 34 tahun, (maluuuu) rambut dikepalaku sudah tumbuh yang berwarna putih alias uban, dan tak seorang anakku yang mau mencabut uban dikepalaku. Meskipun bukan satu atau lima rupiah yang memang sekarang ngga ada nilainya tapi sepuluh ribu peruban. Ternyata itu sama sekali tidak menarik untuk anakku, mereka lebih memilih main game. Akhirnya uban dikepala ini jadi bahan tertawaan.Mereka menganggap kenapa mesti repot, dicat aja langsung hilang. Begitu komentar mereka. dan kagetnya setelah mereka SD, mereka malah menceramahiku katanya "uban itu ngga boleh dicabut, itu nanti jadi saksi di hari perhitungan,....". Belum selesai mereka bicara aku berdalih seperti kata ibuku "yang bikin gatal aja'. Kata anakku "kalau gatal keramas aja terus pakai tonic, hilang dech gatalnya". Hadyuhhhh
Dulu aku ngga pernah membantah, setiap permintaan ibuku adalah titah yang harus aku jalani. Meski cemberut, manyun bahkan menangis aku tetep melakukan perintahnya.
Sekarang ibuku sudah renta bahkan uban dikepalanya nyaris ngga ada karena memang rambutnya sudah hampir ngga ada.
Rasanya aku ingin menangis dan bersujud ditelapak kakinya memohon segala ampunan karena aku telah mencabut uban-ubannya dan begitu sabarnya menerima perlakuanku. Kalau boleh dibilang semakin bertambah usiaku, semakin banyak uban dikepalaku, semakin besar anak-anakku , semakin berasa betapa cintanya ibuku kepadaku dan semakin besar cintaku kepada ibuku. Semoga tidak ada kata terlambat buatku untuk membalas segala cintanya kepadaku. Meski jarak dan waktu membentang begitu jauh dan waktu 24 jam tidak cukup untukku, tapi cintaku pada ibuku jug lebih dari 24 jam.